Membebaskan Luka (Lama)

Aku terduduk, kembali berusaha menguraikan benang-benang kusut yang belakangan cukup mengganggu. Menyebalkan, tapi di lain sisi aku merasa sedang menjadi manusia, aku kembali merasa tidak baik-baik saja. Berharap dengan menuliskan ini aku menemukan hal-hal baru yang tidak terduga ada, yang mungkin tersimpan beberapa lama entah sebagai luka atau sekadar fakta.

Hmm.. aku bingung dari mana harus memulai. Sudah lama rasanya aku tidak mengambil jarak terhadap hal-hal di luar aku, mengambil jeda untuk lebih mendengar dan menyelami "apa yang sebenarnya terjadi". 

***

Sejak kapan aku menjadi aneh? Merasakan kesedihan dengan intensitas tinggi dan frekuensi yang tidak wajar (dalam ukuran track record-ku). Mungkin kalau dikira-kira, sekitar 5/7 malam-malamku menjadi sendu, sejak sebulan belakangan. Tidak selalu muncul tangisan sih, tapi seolah ada awan mendung yang selalu mengikutiku setiap malam. Kadang yang kulakukan hanya mencari distraksi di sosial media, hingga tahu-tahu sudah lewat tengah malam. Lelah, tertidur, dan bangun dengan masih lelah. Aku seolah lupa cara memproses kesedihan.

Apa yang terjadi?

#Fase1: Kehilangan

Aku pikir trigger awalnya adalah ini. Aku kehilangan seseorang yang selama ini menjadi salah satu tempat aku pulang. Orang yang selalu mensupport keanehanku, perkembanganku, dan ambisi-ambisi kecil (yang kadang kurang penting). Salah satu alasan aku kembali ke kota yang menjadi pusat tata surya ini (saking panasnya). Orang yang mengajariku berkeluh-kesah, suka memeluk, dan pandai mengekspresikan rasa sayang. Aku suka mencibir orang-orang yang sibuk bergosip, tapi dengannya bergosip menjadi sangat menyenangkan. Bersamanya, hidup terasa mudah, tidak banyak drama, justru banyak lucunya.

Berteman dengannya membuatku sedikit banyak tahu, seperti apa hidup yang aku inginkan dan bersama orang seperti apa aku ingin menghabiskan hidupku. Dia memberikanku referensi tentang hidup yang menyenangkan, juga hubungan yang sehat dengan pasangan. Salah satu orang yang membuatku percaya bahwa sebuah pernikahan bisa menjadi sangat mengasikkan, tidak menakutkan seperti yang dulu kubayangkan. I always look at her. Yeah, no wonder everyone love her too.

I know she moved for her best and our time was over. Kehilangan dia bukan sesuatu yang menyakitkan atau menimbulkan luka dalam. Hanya saja aku menjadi sedih berkepanjangan, kehilangan tempat pulang dan pelarian yang mudah diakses untuk sekadar bercerita, mengeluh, atau bergosip. Seolah ada sebuah lubang besar di sudut ruang sosial dalam otakku.

#Fase2: Mempertanyakan Kembali

Di bulan ini tidak hanya satu 'selamat tinggal' yang aku terima. Beberapa rekan kerjaku juga berpamitan (atau setidaknya tinggal menunggu waktu untuk itu). Mereka mengambil langkah berani untuk mewujudkan hal yang bagi mereka lebih penting. Aku merasa kembali ke era 2019 di mana satu per satu teman mulai berpamitan usai lulus dan wisuda. Aku pikir aku sudah terbiasa, tapi mungkin memang tidak akan ada yang bisa terbiasa dengan perpisahan, rasanya selalu menyakitkan.

Keberanian mereka untuk berhenti dan bermanuver membuatku kembali mempertanyakan diri sendiri, "kamu kapan?", lantas muncul pertanyaan tandingan, "memang kamu mau ngapain habis ini? Apa yang kamu inginkan?" -Wow, seperti flashback enam tahun lalu.

Aduh, sulit sekali menjawab pertanyaan ini. Yang jelas aku tahu, aku sudah stuck di tempat ini. Sudah 4 tahun dan tidak banyak lagi yang bisa aku pelajari.

Aku mencoba mengingat lagi tujuanku. Apa yang kuinginkan? Bagaimana hidup yang ingin kujalani? Kemana ini semua akan bermuara?

#Fase3: Ketakutan

Aku pikir aku paling takut dengan tikus, ternyata di fase ini aku bisa berpikir bahwa sepertinya tikus lebih mudah dihadapi👀 

*)Catatan: Aku menjeda tulisan ini beberapa minggu. Sayang jika tidak dilanjutkan karena aku suka membaca tulisan-tulisan lamaku buat melihat sejuah mana aku berproses (haha, si narsis). Akhirnya aku melanjutkan tulisan ini setelah masa-masa emosionalku selesai. Jadi, dalam paragraf-paragraf selanjutnya aku tulis berdasarkan ingatan bukan lagi perasaan. 

Aku membuat list mengenai opsi apa saja yang ingin/bisa kulakukan setelah ini. Oke, setidaknya aku punya dua opsi, aku menyebutnya menjauh atau mendekat

Dalam memproses dan menimbang dua opsi ini, banyak hal-hal emosional yang ternyata perlu kuproses terlebih dulu. Sayangnya sumber-sumber emosi ini tidak jelas, tapi banyak diantaranya adalah ketakutan. Mari kita break-down gejala-gejala emosional itu.

  • Pola Tidur Kacau
Di usia dewasa ini, aku baru sadar bahwa pola tidur sangat dipengaruhi dan mempengaruhi banyak hal. Jam tidurku semakin mundur karena aku lelah harus mengolah banyak hal sebelum tidur, bangun dengan tidak segar dan masih lelah mengakibatkan aku makin kesulitan mengelola emosi, begitu seterusnya menjadi lingkaran setan. Gak heran ya jika orang depresi mengawali gejalanya dengan tidak tidur berhari-hari.
  • Senggol Nggembeng

Emosi yang kacau dan kemampuan pengelolaan yang buruk ini bikin aku di mode: senggol dikit langsung sedih dan nangis. Awalnya aku pikir karna PMS, tapi PMS kok sampai berminggu-minggu? Mana diikuti jerawat sampe berbulan-bulan lagi😭 "Ada yang gak bener ini!"

Emosi yang gak jelas sumbernya dari mana ini, bikin aku sering mengabaikannya dan mencari distraksi lewat bermain clay atau sosial media. Suatu malam sepulang kerja, tangisku pecah setelah membaca cerita pribadi seseorang (kenalanku) di sosmed.

    "Gimana kalo tiba-tiba sesuatu yang buruk terjadi sama aku? Siapa orang yang bakal selalu ada di sampingku dan gak ninggalin aku?" Pikiran rasionalku tahu aku overreact, tapi itu valid.

Hari-hari selanjutnya pun begitu, dengan trigger yang berbeda atau bahkan tanpa trigger, malam-malamku menjadi gloomy. Setiap malam sebelum memasuki kos, aku harus menyiapkan sebongkah energi untuk menghadapi kesedihan tak berujung ini.

Clay Hasil Distraksi Diri


  • Hidden Scared
Aku mulai sadar kegiatan-kegiatan distraksiku hanya mengulur lebih banyak waktu untukku bersedih, karna ternyata ini bukan sekadar temporal hormon. Harus ada usaha yang aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini, baik dari dalam/luar. Aku berusaha menggali, menarik ulur memori beberapa bulan belakang, mencari akar dari emosi gak jelas yang aku rasakan. Ini hipotesis dari pengamatanku, tapi sepertinya jawaban utamanya adalah karna rasa takut.

  1. Takut stuck di tempat yang sama, namun justru kehilangan lebih banyak.
  2. Sempat berencana kembali ke kampung, aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan sosial dan intelektualku. Selama beberapa tahun aku hidup dengan mengikuti rasa ingin tahuku. Bebas mengeksplor apa yang ingin aku eksplor, mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan random. Didukung lingkungan yang suportif dan bisa diajak bertukar pikiran. -Gimana jika hal itu tidak aku dapatkan? Apa yang akan terjadi denganku?
  3. Scared of losing myself. Ini barangkali adalah salah satu kemungkinan jika aku tidak berhasil mendapatkan poin 2. Ketakutan ini bukan tanpa sebab, karena aku memang punya track record demikian di tempat aku bertumbuh remaja. Masa lalu yang aku kira aku sudah selesai, ternyata masih menyisakan ketakutan sedalam ini. Aku sempat berada di titik jantungku berdegup lebih kencang dan napasku terengah-engah tiap memikirkan hal ini. Aku takut kehilangan hal-hal yang paling aku sukai dari aku, aku takut menjadi aku versi terburukku. 
Aku sempat berpikir, "Apakah ini saatnya aku butuh psikolog?" Tapi aku urungkan karena males ribet dan belum tentu langsung nemu yang cocok. Pun dengan mulai bisa pinpoin akar masalahnya, emosiku menjadi lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Aku mulai bisa memikirkan hal-hal solutif.

Aku tahu, ketakutanku ini irrasional, terutama poin 3. 'Bagaimana tidak, meskipun dengan lingkungan yang sama persis, tapi kan kapasitas dan kemampuan berpikirku jelas jauh berbeda. Aku yang sekarang akan menghasilkan output yang berbeda dengan si bodoh belasan tahun lalu. Masa iya sih aku bisa jatuh di kebodohan yang sama??', kata otak rasionalku, si gak terima disamain dengan manusia bodoh (aka aku sendiri).

'Bisa jadi lah! Karena kamu make 90% otak emosimu buat memproses segala hal di hidup! Kalo emosi masa lalu ini masih kuat di otakmu, ya byebye!', kata bagian lain dari otakku (yang sepertinya lebih rasional).

Apapun isi perdebatan di kepalaku ini, pada akhirnya aku tahu ternyata aku belum selesai dengan luka masa laluku. Aku harus menghadapinya dan menyelesaikannya, membebaskan luka itu untuk akhirnya menjadi aku versi lebih baru lagi. Tinggal sekarang pertanyaannya adalah gimana caranya?

#Fase4: Too Much Triggering

Maaf kebanyakan fase. Aku pikir juga sudah selesai😭

Akhir-akhir ini berita soal Indonesia Raya ini makin ada-ada saja. Fakta-fakta perjokian dan pendidikan, prioritas dana APBN dari pemerintah, hingga yang terbaru soal Pilkada. Makin bikin frustasi. Hal-hal kureng di skala nasional kaya gini, aku yakin juga terjadi di skala-skala yang lebih kecil, hanya gak terekspos aja. Gak cuma kompetensi yang minus ternyata masyarakat kita pun minus integritas. Aku gak tahu lagi bisa percaya sama orang yang seperti apa.

Somehow permasalahan politik kaya gini juga mengamplifikasi ketakutan-ketakutanku sebelumnya. Aku yang belum beres menyelesaikan hal-hal emosional dalam diriku, disuapin terus menerus dengan fakta-fakta yang membuat apa yang aku takutkan makin nyata. Trigger soal pengambilan kebijakan yang buruk, tidak tertib lalu lintas, sistem sanitasi dan persampahan yang buruk (yang sebenernya udah terjadi sejak lama), tapi sekarang menjadi trigger lebih bagiku.

"My biggest fear is my country, and being consumed by it." -Abigail Limuria.

Huhuu.. aku tidak siap menghadapi dunia. Aku harus menyelesaikan diriku, satu per satu sebelum siap memedulikan atau membenci lebih banyak hal lain.

Panjang umur akal sehat! :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Love Journey

Mengupas Insecurity