Dalam bersosial media, kita dapat dengan mudah mengakses banyak informasi tentang orang lain. Siapa namanya, dimana rumahnya, apa pekerjaannya, bahkan dengan siapa dia menjalin hubungan. Misalkan saja pada instagram, kita tinggal buka saja profilnya, lihat jenis-jenis postingannya, captionnya, dan kita bisa melihat teman-temannya dengan mengecek siapa yang menandai fotonya, maupun siapa yang berada dalam satu frame dengannya. Aku pun sering melakukan ini, bukan semata-mata bermaksud stalking (meskipun kadang, iya juga sih). Namun awalnya lebih sering iseng saja. Misal ketika aku sedang menonton story seseorang, kemudian dia me- repost atau menandai akun temannya. Secara random dan intuitif, aku bisa saja meng-klik akun temannya dan melihat isi profilnya. Is it important? Tentu saja mayoritas jawaban akan berkata SANGAT TIDAK PENTING dan buang-buang waktu. Akupun berpikir demikian. Apalagi menyangkut kehidupan pribadi seseorang, yang bahkan tidak begitu kita kenal di dunia ...
Aku terduduk, kembali berusaha menguraikan benang-benang kusut yang belakangan cukup mengganggu. Menyebalkan, tapi di lain sisi aku merasa sedang menjadi manusia, aku kembali merasa tidak baik-baik saja. Berharap dengan menuliskan ini aku menemukan hal-hal baru yang tidak terduga ada, yang mungkin tersimpan beberapa lama entah sebagai luka atau sekadar fakta. Hmm.. aku bingung dari mana harus memulai. Sudah lama rasanya aku tidak mengambil jarak terhadap hal-hal di luar aku, mengambil jeda untuk lebih mendengar dan menyelami "apa yang sebenarnya terjadi". *** Sejak kapan aku menjadi aneh? Merasakan kesedihan dengan intensitas tinggi dan frekuensi yang tidak wajar (dalam ukuran track record- ku). Mungkin kalau dikira-kira, sekitar 5/7 malam-malamku menjadi sendu, sejak sebulan belakangan. Tidak selalu muncul tangisan sih, tapi seolah ada awan mendung yang selalu mengikutiku setiap malam. Kadang yang kulakukan hanya mencari distraksi di sosial media, hingga tahu-tahu sudah lew...
Aku merasa memiliki imajinasi yang tinggi sejak kecil. Hobiku adalah berkhayal. Kegiatan yang sering kulakukan dalam mendukung hobiku adalah berbicara dengan bayanganku sendiri di depan kaca. Berlagak menjadi tokoh dalam khayalanku, dalam sehari aku bisa menjadi tiga sampai tujuh pribadi yang berbeda dalam sehari. Ya, tentu saja itu hanya berlaku untukku di depan kaca, di dalam kamar, dan sendirian. Aku tidak siap disebut aneh atau lebih parahnya lagi gila kalau ada orang yang mengetahui kebiasaanku, termasuk orang tuaku.
Komentar
Posting Komentar