Mengupas Insecurity
Bukan tanpa alasan aku ingin mengupas perasaan satu ini. Bisa dibilang perasaan insecure adalah salah satu musuh terbesarku sepanjang aku hidup. Aku sudah cukup struggling dengan isu ini sejak lama, meski baru menyadarinya sekitar tiga tahun lalu (Baca #Insecurity series untuk mengetahui ceritaku). Bahkan di titik sekarang pun, perasaan ini bisa tiba-tiba muncul -entah dari mana- seperti trauma masa lalu dan aku masih belum bisa mengatasinya dengan baik. Namun seperti kata orang, kita harus bisa mengenal musuh kita dengan baik agar kita tahu bagaimana cara melumpuhkan dan mengalahkannya. Jadi di sinilah aku, ingin mengupas lebih dalam dan detail mengenai insecurity. Apa itu insecurity, kenapa dia bisa muncul, dan bagaimana cara mengatasinya. Let's peel it!
**
Disclaimer : Aku tidak bisa menemukan padanan kata yang enak dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan insecurity (perasaan insecure), jadi aku akan tetap menggunakan istilah ini. Sebelum membahas dengan panjang lebar dan luas, aku mau mendefinisikan dahulu apa itu insecurity.
Insecurity di sini aku artikan sebagai perasaan rendah diri atau perasaan undervalue terhadap diri sendiri, terlepas dari apapun trigger dan alasannya. Efek langsung dari perasaan ini biasanya adalah menjadi tidak percaya diri, yang mana bisa menimbulkan perasaan cemas berlebihan (anxiety), takut bertindak mengambil dan risiko, menarik mundur diri dari suatu kelompok, dan lain-lain.
Mengapa Insecurity Bisa Muncul?
Mari aku ulangi definisinya. Insecure adalah perasaan undervalue terhadap diri sendiri. Artinya, kita merasa bahwa nilai (value) diri kita di bawah standar atau lebih rendah jika dibandingkan dengan orang lain. Sekarang pertanyaannya, apa batasan standarnya? Siapa yang menentukan standar tersebut? Dan bagaimana kita mendefinisikan mana nilai yang rendah dan mana nilai yang tinggi?
Manusia adalah makhluk yang dididik oleh komunitas (baik keluarga, tetangga, guru, teman, ataupun tontonan di televisi). Sejak kecil kita telah mendengar berbagai macam nilai (value) yang dianut oleh masyarakat, lebih jelas dalam bentuk petuah, nasihat-nasihat, ataupun larangan ini dan itu.
"Kamu kalau udah gede, kerja jadi pegawai negeri ya. Jangan jadi petani kaya Bapak."
"Lihat tu hidup Tante Mawar, enak. Punya rumah gede, mobil mewah, perhiasan banyak."
"Ya ampun, putrinya cantik banget. Putih, bersih, tinggi, hidung mancung, rambut lurus. Pasti besok suaminya ganteng."
Contoh nasihat-nasihat dan sekadar omongan semacam ini mampu membuat kita percaya bahwa pegawai negeri punya nilai yang lebih tinggi dibandingkan petani; memiliki rumah besar, mobil mewah, dan perhiasan akan menaikkan nilai dirimu; begitu pula dengan memiliki fisik yang tinggi, hidung mancung, rambut lurus, dan kulit putih akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan ciri fisik lain. Tidak selalu percaya secara sadar, hal ini seperti otomatis tertanam sebagai nilai moral diri kita begitu saja.
Tanpa sadar, kita jadi punya sususan ataupun pengelompokan sendiri tentang mana nilai yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah. Di sinilah awal mula insecurity bisa muncul, yaitu ketika kita merasa tidak punya hal-hal yang diidentikkan dengan nilai tinggi menurut kita.
--
Jadi beberapa tahun lalu aku mendapatkan cerita dari seseorang mengenai bagaimana kehidupan masa kecil hingga remajanya -yang akhirnya membawaku kepada kesimpulan ini-.
Usut punya usut, dia tidak memiliki nilai bahwa kemiskinan itu buruk atau sesuatu yang patut dikasihani. Kemiskinan lebih seperti suatu realita yang menghasilkan konsekuensi tertentu. Masa-masa kecilnya tidak pernah terpapar dengan pergaulan membandingkan siapa yang lebih mampu membeli apa. Oleh karena itu dia tidak sedikitpun insecure oleh ini. Namun di sisi lain, ibunya sering mengatakan bahwa dia jelek karena kulitnya gelap. Dari situ dia memiliki keyakinan (nilai) bahwa berkulit gelap itu buruk.
Meskipun hal seperti ini jarang terjadi, bisa jadi 1/100 orang (atau lebih). Namun poinku adalah bagaimana kepercayaan terhadap nilai yang berbeda bisa sangat mempengaruhi bagaimana kita melihat dunia dan pada akhirnya mempengaruhi bagaimana kita bersikap ataupun bertindak.
Mengategorikan Perasaan Insecure
Biasanya irrational insecurity ini dipengaruhi oleh kepercayaan warisan yang ada dalam diri kita. Seperti yang aku katakan bahwa kepercayaan ini bisa mempengaruhi cara kita melihat dunia, atau istilahnya adalah false belief terhadap realita kehidupan.
(2) Rational Insecurity : adalah perasaan insecure yang diakibatkan karena alasan-alasan rasional (logis/masuk akal). Misal kita ingin mencapai suatu tujuan tertentu, kita tahu bahwa untuk sampai kesitu dibutuhkan suatu skill tertentu juga. Namun, kita sadar tidak cukup kompeten dalam skill tersebut sehingga perasaan insecure bisa muncul, terutama ketika kita merasa berada dalam lingkungan orang-orang yang lebih kompeten dibandingkan kita. Alasan-alasan ini menjadi cukup relevan dan logis untuk kita khawatirkan.
Kenapa bagiku perlu untuk mengategorikan perasaan insecure yang kita alami? Karena treatment untuk menanganinya pun akan sedikit (atau jauh) berbeda.
Bagaimana Cara Mengatasi Insecurity
Segala permasalahan yang sumbernya dari otak dan diri kita sendiri, perlu kita kupas permasalahannya mulai dari diri sendiri pula. Kuncinya adalah kita mau jujur dan sabar. Jujur tentang apa yang kita rasakan, kita pikirkan, dan kita alami. Sabar karena untuk mengupas sesuatu yang telah tertanam begitu lama (belasan tahun atau bahkan puluhan tahun) membutuhkan waktu yang tidak cepat (bergantung dari tingkat insecurity-nya yaa). Ibarat diri kita adalah sebuah bawang, kita perlu mengupasnya dari layer per layer untuk dapat menemukan intinya.
(1) Identifikasikan Alasan Insecure
(2) Mengategorikan Insecurity
(3) Mendefinisikan Ulang Nilai Diri
Mengapa ini menjadi penting? Karena kebanyakan nilai atau moral yang tertanam dalam diri kita adalah sebuah warisan. Bukan sekadar warisan dari orang tua, namun bisa jadi dari nenek buyut atau bahkan nenek moyang kita, sejak zaman pemburu-pengumpul. Jika kita tidak pernah mempertanyakan kembali nilai-nilai tersebut, bisa jadi warisan inipun sudah tidak lagi relevan atau bahkan menjadi hal yang cenderung bodoh untuk kita permasalahkan.
Agar lebih mudah berpikir rasional dan jernih, kita perlu melihatnya dengan kacamata langit. Maksudnya adalah kita melihat suatu peristiwa secara objektif, dengan sudut pandang orang ketiga, tanpa melibatkan diri kita dalam sistem tersebut.
Jika ingin mengupas lebih dalam, bisa ditambahkan pertanyaan : Apa kejadian yang melatarbelakangi adanya kepercayaan terhadap nilai ini? Bagaimana sejarahnya?
Komentar
Posting Komentar