Mereka Bilang Bapakku Gila
Udara berhembus cukup kencang ketika aku sampai di tempat ini. Sebuah tempat peristirahatan yang tidak pernah kudatangi sejak lima tahun silam di hari pemakaman bapak. Pohon beringin yang telah tumbuh sebelum aku lahir masih berdiri gagah di antara pohon-pohon kamboja yang sedang tidak berbunga. Ya, tepat di bawah pohon itulah aku perlahan mengarahkan langkahku. “Bapak, aku datang.” Bisikku di hadapan gundukan tanah dengan papan kayu berukiran nama ‘ Bhanu Wijoyo bin Pramono ’. Mataku terasa menghangat, menahan air mata. Masih sangat jelas di ingatanku, sebuah memori ketika aku berlari ketakutan lima tahun silam karena bapak yang tiba-tiba berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Ibu menangis sambil mencoba menenangkan. Beberapa tetangga datang ke rumah, sebagian mencoba menolong, dan yang lain hanya menonton. Sedangkan aku, menyembunyikan ketakutanku dengan memeluk adikku yang masih berusia lima tahun kala itu. Beberapa kyai didatangkan ke rumah untuk mengobati bapak. Setiap mal...